PT Media Desa Indonesia bergabung dengan produser internasional Margate House untuk merilis seri pertama dari tiga seri film panjang berjudul MERAH PUTIH. Film pertama dari “Trilogi Kemerdekaan”, sebuah drama perang, mulai shooting pada Januari dan Februari di Semarang, Yogyakarta, dan pegunungan Bandungan di Jawa Tengah, dekat sekolah militer di Bantir. Film saga fiksi sepanjang sembilan jam tentang perang, cinta, intrik, dan persaudaraan ini berdasarkan kisah nyata para kadet Indonesia yang menjadi pejuang kemerdekaan pada masa perang kemerdekaan di akhir tahun 1940-an. Film ini menelusuri kembali jejak tragedi, roman, humor, dan petualangan para gerilyawan yang berasal dari kelas, etnis, dan agama yang berbeda namun mereka bersatu untuk kemerdekaan Indonesia.
Disutradarai oleh Yadi Sugandi, pembuat film dan penata gambar terbaik untuk Laskar Pelangi, Under The Tree, Tiga Hari Untuk Selamanya dan The Photograph, MERAH PUTIH menampilkan sebuah ensemble cast jajaran bintang-bintang muda terbaik Indonesia: Lukman Sardi (Laskar Pelangi, Quickie Express, 9 Naga, Gie), Doni Alamsyah (Fiksi, 9 Naga, Gie), Darius Sinathrya (Ungu Violet, D’Bijis, Naga Bonar Jadi 2, Love), Zumi Zola (kimpoi Laris), T. Rifnu Wikana (Kado Hari Jadi, Laskar Pelangi), dan memperkenalkan aktris yang belajar akting di London dan Hollywood Rahayu Saraswati D, aktris Indonesia pertama masa kelahiran kembali perfilman Indonesia yang memainkan peran sebagai tentara. Dibesut dalam format seluloid 35-millimeter dengan tim internasional papan atas ahli efek khusus (special effects) dan veteran perfilman Hollywood yang memiliki pengalaman antara lain mulai dari Saving Private Ryan dan Blackhawk Down sampai The Quiet American dan The Matrix, MERAH PUTIH akan menjadi kesempatan pertama para bintang Indonesia yang sedang naik daun untuk memberikan penghormatan kepada mereka, para lelaki dan perempuan Indonesia, yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa. Kisah epik ini juga merupakan kesempatan untuk menunjukkan suatu sejarah persatuan dan kebangsaan Indonesia – dan kebangkitan industri filmnya – kepada dunia. “Sebuah kehormatan besar bagi saya untuk mengenali kepahlawanan generasi sebelum kita dan pengorbanan yang mereka buat enam puluh tahun lalu agar negara kita bisa merdeka seperti sekarang,” ujar Yadi Sugandi. “Kita semua merasa diberkati Tuhan karena bisa menceritakan kisah ini demi kehormatan mereka,” lanjutnya. Dibuat berdasarkan sebuah sejarah otentik perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan, film ini bercerita tentang sebuah kelompok pejuang kemerdekaan yang memiliki latar beragam yang bersatu sebagai kadet, untuk menjadi anak-anak bangsa sesungguhnya, terlepas dari konflik pribadi yang tajam dan perbedaan yang besar dalam kelas sosial, suku, daerah asal, agama, dan kepribadian.
Lukman Sardi memerankan Amir, seorang muslim yang taat, guru sekolah Islam yang berperilaku halus yang berasal dari Jawa Tengah, yang harus menjadi pemimpin teman-teman kadetnya, setelah Belanda membunuh teman-teman seangkatan mereka. Doni Alamsyah sebagai Tomas, berasal dari Manado, adalah anak kuli peternak ayam beragama Kristen dan emosional, yang haus untuk membalaskan dendam pembunuhan terhadap keluarganya di Sulawesi. Tomas berteman baik dengan pendatang lainnya, Dayan (Teuku Rifnu), seorang Hindu Bali yang tangkas dengan pisau tetapi lambat berbagi rahasia tentang masa lalunya di gang-gang kelam di Bali. Mereka berseteru dengan Marius, playboy priyayi elit yang diperankan Darius Sinathrya, seorang pengecut dan pembolos yang bergabung di ketentaraan sebagai pembangkangan terhadap ayahnya. Sahabat Marius, Soerono (Zumi Zola), keturunan keluarga pedagang kaya di Jawa, mencoba berdamai, sementara menyembunyikan rasa malu dari rahasia kelam yang dialami juga oleh adik perempuannya bernama Senja, diperankan oleh Saraswati. Sebelum mereka menyelesaikan masa latihan mereka, dunia para kadet ini porak-poranda ketika Belanda menyerang kamp mereka dan membunuh semua teman-teman seangkatannya. Terkalahkan, tanpa pemimpin dan lari dari kejaran Jenderal Van Mook, para kadet harus mengesampingkan persaingan pribadi dan trauma, berjuang sebagai gerilyawan untuk pasukan pemberontak Sudirman di pegunungan dan hutan di Jawa Tengah. “Kisah film ini merentang di seluruh kepulauan Indonesia, sebuah saga tentang perjuangan pribadi, pertumpahan darah, cinta, benci, dan perang sipil yang terkait dengan isu-isu sensitif soal moral pada masa pertumpahan darah. Ini adalah kisah tentang konflik dan persatuan, agama dan moralitas, keberanian sejati dan tantangan sikap moral diantara kejahatan,” terang Yadi. “Film ini memiliki faktor-faktor drama, aksi, roman, komedi, dan tragedi – yang di atas segalanya, MERAH PUTIH adalah kisah tentang persatuan yang telah berhasil membuat kita memenangkan kemerdekaan, dan tantangan terbesar kita adalah melakukan yang terbaik untuk dapat menampilkan peristiwa sejarah yang besar itu selayaknya,” tambahnya lagi.
MERAH PUTIH juga menampilkan akting Atiqah Hasiholan dan Astri Nurdin. Film ini mendapuk editor terkemuka Sastha Sunu (Ca Bau Kan, Eliana Eliana, Gie, Long Road To Heaven, The Photograph), desainer produksi Iri Supit (Ca Bau Kan, Biola Tak Berdawai, Gie, Long Road To Heaven, Belahan Jiwa), dan tim terkemuka di bidang efek khusus (special effects) dan ahli teknis yang berpengalaman dalam film-film Hollywood: Koordinator efek khusus dari Inggris Adam Howarth (Saving Private Ryan, Blackhawk Down), koordinator pemeran pengganti (stunt) Rocky McDonald (Mission Impossible II, The Quiet American), make-up dan visual effects Rob Trenton (The Dark Knight), konsultan ahli persenjataan John Bowring (Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins:Wolverine) dan Asisten Sutradara Mark Knight (December Boys, Beautiful). Sekarang ini, film sedang dalam tahap shooting di Semarang dan Bandungan (1,5 jam dari Semarang). Pengambilan gambar juga dilakukan di Yogyakarta, Jakarta dan Bali, mulai Januari hingga akhir April 2009. Film pertama dari tiga film Trilogi Kemerdekaan, akan siap dirilis pada hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2009. Produser eksekutif film ini termasuk direktur PT Media Desa Indonesia Hashim Djojohadikusumo dan Rob Allyn & Jeremy Stewart dari Margate House. Riset dan penulisan skenario digarap oleh Conor Allyn dan Rob Allyn, seorang penulis buku yang pernah menerbitkan buku terlaris New York Times 2007, REVOLUTION OF HOPE, yang ditulisnya bersama mantan presiden Meksiko Vicente Fox. Proyek film ini mengikutsertakan sumber daya film lokal yaitu Syzygy Productions yang berbasis di Jakarta, yang dimiliki oleh veteran industri film Gary Hayes (Tropic of Emerald, Anak Seribu Pulau, Bali Cries, Harimau Yang Lapar
Filed under: Film, News, Film
KOMEN TERBAHARU