Di sebuah tayangan film “Bioskop Tr*nsTV” berjudul The Fog, saya merasa tertarik dengan tulisan di salah satu adegannya. Disana ada tertulis MENE MENE TEKEL UFARSIN, hmmnnnn….. merasa kenal, deja vu!!! Yaiyalah, itu adalah sebuah petikan dari ayat Alkitab, Perjanjian Lama. Tepatnya ada di kitab Daniel 5:25. Naghhhh, penasaran untuk mendalami lebih jauh artinya, saya segera berselancar dibantu mbah Google. Inilah dia tinjauannya:
5:25 LAI TB, Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mené, mené, tekél ufarsin.
KJV, And this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
Hebrew,
וּדְנָה כְתָבָא דִּי רְשִׁים מְנֵא מְנֵא תְּקֵל וּפַרְסִין׃
Translit, ‘UDENAH KHETAVA DI RESYIM MENE MENE TEQEL ‘UFARSIN
מנא – MENE = Sudah dihitung (artinya Allah sudah menghitung bahasa Aram מנא – MENA) umur kerajaan Belsyazar.
תקל – TEQEL = (Syikal) dipakai baik sebagai mata uang maupun sebagai timbangan, menunjukkan bahwa Belsyazar sudah ditimbang (dalam timbangan) dan kedapatan terlalu ringan.
פרס – PERES = Sudah dibagi, kerajaanmu sudah dibagi-bagi (peres) dan diberikan kepada Media-Persia ( פרס – PARAS). PARAS ini agaknya menunjukkan bahwa kerajaan Persialah yang lebih berkuasa, yang ke tangannya bangsa Babel akan jatuh.
Waktu Daniel membaca tulisan itu, ia membaca וּפַרְסִין – UFARSIN (ayat 25), tetapi dalam memberikan tafsirnya ia memakai kata פְּרֵס – PERES (ayat 28). Penjelasannya demikian :
Kata penghubung Aram untuk “dan” ialah “U” dan sesudah “U” ini aksara “P” berubah menjadi “F” atau “PH”. F (ph) adalah sebuah huruf dengan pengucapan yang disertai nafas yang keluar untuk menyesuaikan huruf hidup sebelumnya. “IN” adalah menandakan bentuk jamak. Maka akhiran “IN” untuk menyatakan “jamak” dan dari situlah timbul kata “UFARSIN”. Jadi disini kita jumpai permainan kata, dimana gagasan pokok dari membagi-bagi dihubungkan dengan nama si penakluk, yang menghubungkan kata itu dengan orang-orang Persia, karena akhiran itu hanya menjadikan kata itu jamak.
Mene diulang untuk penekanan. Ketiga kata, Mene, Tekel, dan Peres, sebagaimana urutannya, adalah kata kerja berbentuk participle pasif, yang tepatnya diterjemahkan dihitung, ditimbang, dan dipecah. Kata-kata itu juga, ketika dibiarkan tanpa huruf hidup, katakanlah, MN’, TQL, PRS, merupakan nama dari tiga ukuran berat kuno yang mungkin sama dengan istilah-istilah kita, pound (0,45 kg), ounce (28 g), setengah pound. Selain itu, mungkin tulisan di dinding itu merupakan huruf berbentuk baji atau simbol. Tidak satu pun bentuk tulisan ini yang bisa dipahami tanpa konteks. Sebenamya, terpisah dari penafsiran, nilai tulisan itu hanyalah untuk mendapatkan perhatian raja supaya Daniel bisa berbicara kepadanya.
Sumber: sarapanpagi.org








KOMEN TERBAHARU